Kebahagiaan

Kebahagiaan itu memang sederhana, hanya saja cara untuk mendapatkannya yang tidak sesederhana itu.

Untuk bisa bahagia, seseorang harus sadar. Sadar penuh bahwa ada sebagian dari hidupnya yang berada di luar kendalinya. Sadar jika ada kalanya sesuatu terjadi di luar perkiraan dan mungkin bertentangan dengan mimpi yang telah disusun sedemikian rupa. Untuk bahagia, seseorang perlu sadar bahwa Ia hanya harus percaya, percaya kepada Tuhannya. Sadar bahwa semua telah terjadi dan tidak ada yang bisa mengubah masa lalu. Tidak ada yang bisa memutar waktu.

Ketika seorang manusia menjadi sadar, ia akan mulai menerima apa yang terjadi padanya. Memaafkan apa yang dianggapnya telah menghancurkan semua mimpi dan cita-citanya. Terlebih, memaafkan dirinya sendiri, salah satu hal tersulit yang manusia dapat lakukan. Seringkali manusia berhasil memaafkan orang lain akan tetapi tidak mampu memaafkan diri sendiri, membuat manusia tidak dapat menerima apa yang terjadi dalam hidupnya. Tidak mudah memang, tetapi bukan berarti tidak mungkin.

Ia akan belajar. Belajar untuk tersenyum pada mereka yang menghancurkan dirinya. Memahami bahwa memberikan rasa benci dan balas dendam hanya memberikan kepuasan sesaat. Mengetahui bahwa mereka yang berbicara hal yang buruk tentang dirinya, yang berbuat jahat padanya, tak lebih dari mereka yang merasa iri dan terancam olehnya. Ia tidak pernah menyesal atas keputusan yang ia ambil. Ia hanya menyesal karena telah membiarkan dirinya percaya dengan apa yang orang lain ingin Ia percaya.

Sesungguhnya Ia tidak pernah kehilangan dirinya, hanya saja luka yang telah mereka goreskan terlalu dalam untuk Ia dapat menutupnya sendiri. Sejujurnya Ia takut, takut berada di posisi di mana Ia hanya bisa diam dan menerima. Melihat dirinya diinjak, dipojokkan, dipukuli, tanpa ada seorangpun yang mampu menolong. Sahabatnya hanya mampu melihat dan menangis.

Akan tetapi Ia bangkit. Menghadapi kenyataan yang ada di depan matanya. Berhenti menjerumuskan dirinya dalam lembah penyesalan, terhadap dirinya sendiri. Berhenti merasa takut. Ia akan belajar untuk mencintai dirinya sendiri. Tetap berbuat baik tanpa memilih. Bersyukur atas apa yang Ia alami. Melihat keindahan di balik setiap kepahitan yang dialaminya.

 

Ia tidak akan pernah sama seperti sebelumnya.

Ia bukanlah penyintas.

Ia adalah seorang pejuang.

Ia belajar caranya menjadi bahagia.

 

PS: main picture is a private collection of the writer

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: